Februari



Oleh: Sudarman M.N. Tinamba

Lima belas tahun lalu, tepat umur belasan. Di tepih pantai seorang diri duduk di atas bebatuan padat yang menjulang air laut. Itu aku sedang memancing ikan. Sekitar tiga puluh meter, satu sosok tinggi kurus, compang-camping, berdiri mengawasiku dari seberang batu yang rendah, lalu sosok itu lenyap. Sore yang luar biasa.

Awan hitam tebal berkumpul jadi satu, kilatan petir yang memecah langit sore, sementara suara guntur menggelegar sedetik kemudian, lalu hujan mulai turun pelan membasahi bebatuan sekitar dan seluruh Mado. Aku menggosok-gosok mata dengan tangan yang basa. Apakah aku berkhayal? Juga sosok yang kulihat dari jauh tak dikenal sama sekali.

Ombak masih menampar dinding batu. Aku meletakan mata kail dan umpan ikan sambil berdiri was-was seraya melihat pria aneh itu membalik badan dan bersembunyi di balik batu. Hujan semakin deras, dan dibenakku mencurigai tentang seorang “Coho-Coho” tengah menyebar.

“Woe,” teriakku. “Sapa itu?” Aku melangkah beberapa meter kedepan, naik diatas bebatuan tinggi agar sosok itu terlihat dari pandangan, tapi hanya kepala yang nampak dan badan lainnya menempel di bebatuan.

Tak lama kemudian, pria itu keluar sambil menatapku. Memegang sebungkus permen seraya mengulurkan tangan pertanda agar aku mendekati dan mengambilnya. Namun, hatiku menolak karena dihadapan sosok lelaki aneh wajahnya asing juga tidak hidup sekampung.

Sedetik pun aku membalik badan dan mulai berlari ketakutan. Dari belakang pria itu tidak mengejar hanya terdengar suara kekeh rendah yang meningkat hingga lengkingan histeris. Sesampai di depan rumah teman yang tak jauh dari pantai, dengan nafas yang terengah-engah, “Jika aku mendekat sosok itu, maka kepalaku akan di tebas,” pikirku.

Sementara wacana ”Coho-Coho” menyebar di kampungku, meskipun belum terjadi bahwa anak-anak semasa itu tak ada yang kehilangan kepalanya. Sebagaimana kepalaku di kubur bersama spesis (campuran) semen agar jembatan tahan lama dan kokoh. Itu seakan-akan isu tentang pencurian anak semakin mengakar—menakutkan—menggerikan seperti penyebaran virus Omicron.

***

Memandang langit Selasa, 1 Februari 2022, sebentar malam sudah tenggelam. Bayang-bayang pagi segera menyebar dari tempat aku berpijak. Kejadian aneh yang terlewatkan di masa lalu—dan kini menggarap pada waktu, pekerjaan, makanan, hingga kebutuhan dalam rumah tangga, sesuai status kehidupan termasuk alam bawah sadar.

Ini Februari dalam membuka catatan harian, sekalipun belakangan masih ada jejak hidup yang tertinggal seperti dijadikan studi kasus—advokasi dan investigasi pikiran sangat memerlukan. Mungkin temanku berkata rasional “Terkadang waktu kita disita oleh pekerjaan, kadang pula waktu yang akan menjawab proses karya”.

Meski demikian, sekarang ini, aku hanya perlu waktu bertahun-tahun berproses. Jika Februari sebagai langkah pertengahan, lantas kapan adanya Februari yang berakhir?(*)


Coho-coho__seorang pemotong kepala anak-anak.

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai